Tari Manusia Jadi “Kebo” di Tengah Hutan: Ribuan Warga Alas Malang Tumpah Ruah Panggil Hujan dan Tolak Bala
*SINGOJURUH* – Tradisi leluhur Using kembali menggetarkan Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Minggu 28 Juni 2026 pukul 07.00 WIB. Ribuan warga dan tamu undangan memadati pusat dusun untuk menyaksikan Ritual Adat Kebo-Keboan, sebuah prosesi “bersih dusun” yang sudah ratusan tahun digelar masyarakat Banyuwangi sebagai wujud syukur dan tolak bala. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Danramil 0825/13 Singojuruh Kapten Inf Misdari, Kapolsek Singojuruh AKP A. Rudi, perwakilan Lanal, hingga DPRD Banyuwangi Suwito hadir langsung dalam rangkaian acara yang dimulai dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya hingga simbolis pembukaan ritual.
Ritual Kebo-Keboan ditandai dengan aksi warga yang merelakan tubuhnya dicat hitam pekat dan berlaku layaknya kerbau sawah, dibimbing tokoh adat dan diiringi kesenian tradisional Ekawangi. Prosesi diawali sambutan Kepala Desa Alas Malang dan Bupati Ipuk Fiestiandani, dilanjutkan ramah tamah serta pagelaran seni. Menurut catatan adat, tasyakuran ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, pengikat silaturahmi, sekaligus ikhtiar membersihkan desa dari segala penyakit dan bala. Kegiatan diikuti aliansi tokoh adat Nusantara, SKPD dan Dispar Banyuwangi, Forpimcam Singojuruh, para kepala desa se-kecamatan, Paguyuban Ekawangi, serta seluruh warga Desa Alas Malang. Babinsa Serka Moh Sirojul Huda turut melakukan monitoring untuk memastikan kegiatan berjalan aman.
Antusiasme warga dan kolaborasi lintas unsur TNI, Polri, Pemda, hingga tokoh adat menjadi penegas bahwa Kebo-Keboan bukan sekadar pertunjukan, melainkan warisan budaya yang hidup. Seluruh rangkaian ditutup dalam kondisi tertib, aman, dan lancar tanpa insiden. Pelestarian ritual ini dinilai sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam mengangkat wisata budaya berbasis kearifan lokal ke panggung nasional.